Selasa, 06 Juni 2006

KASIH  YANG  TAWAR

“Namun demikian Aku mencela engkau,
karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula.”

Wahyu 2:4

 

Satu celaan yang diberikan kepada jemaat Efesus, sudah cukup untuk mengatakan bahwa mereka tidak berkenan kepada Tuhan.  Awalnya memang mereka sangat disanjung.  Lihat saja di ayat 2 dan 3. Tuhan mengatakan: “Aku tahu segala pekerjaanmu: baik jerih payahmu maupun ketekunanmu.  Aku tahu, bahwa engkau tidak dapat sabar terhadap orang-orang jahat, bahwa engkau telah mencobai mereka yang menyebut dirinya rasul, tetapi yang sebenarnya tidak demikian, dan bahwa engkau telah mendapati mereka pendusta.  Dan engkau telah sabar dan menderita oleh karena namaKu dan engkau tidak mengenal lelah.”

Kita pasti bertanya, apa sebetulnya kasih yang mula-mula itu sehingga keberadaanya begitu penting? Gambaran yang mungkin dapat membantu kita untuk memahami kasih yang mula-mula adalah ibarat seseorang yang pertama sekali jatuh cinta, maka pikiran, perasaan dan kehendak selalu tertuju pada objek cintaannya.  Kalau dikatakan sedikit ekstim bahwa orang yang jatuh cinta tidak dapat hidup tanpa kehadiran pasangannya di sisinya.

Gambaran yang sama dapat disamakan bahwa kasih yang mula-mula adalah rasa cinta kepada Tuhan yang begitu mendalam sehingga apapun yang diperbuat, diusahakan Tuhan hadir di dalamnya.

Semangat yang mulai kendur, rasa cinta yang mulai memudar kepada Tuhan, akan menggiring kita pada satu titik di mana kita akan membelakangi Tuhan.  Itulah yang diperingatkan Tuhan kepada kita semua agar kembali kepada kasih yang mula-mula. (DJD)