Proses Pembuatan Album Rohani

 

 

“ Biarlah semua yang bernafas memuji TUHAN! Haleluya!”

(Mazmur 150:6)

 

 

Setelah membuat lagu-lagu rohani, yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah apakah kita akan menelurkannya menjadi sebuah album atau tidak?

 

Sebelumnya, tidak pernah saya berpikir untuk memiliki sebuah album rohani. Lagu-lagu yagn saya buat hanyalah untuk koleksi pribadi saja dan membantu ‘mengisi’ hard disk komputer yang masih kosong. Sampai akhirnya Tuhan menaruh sesuatu di hati saya, untuk membuat lagu-lagu tersebut menjadi berkat untuk orang lain. Beberapa saat saya bergumul: mulai dari rasa malu yang timbul sampai masalah biaya. Namun oleh kebesaran-Nya, akhirnya semuanya bisa terwujud dan lagu-lagu tersebut akhirnya bisa menjadi sarana untuk memuliakan Tuhan.

 

Tulisan ini akan saya bagi menjadi dua bagian, yaitu sebelum dan sesudah albumnya siap. ‘Siap’ di sini berarti jumlah lagu kita sudah cukup, dan seluruh lagu telah di-arransemen dengan sempurna, vocal sudah masuk dan sudah melalui proses mixing (penyempurnaan tata suara akhir di studio). Intinya sudah siap diedarkan.

 

 

Bagian 1

Mempersiapkan Sebuah Album

 

Ini merupakan proses terbesar dari membuat suatu rohani. Lagu-lagu yang telah kita buat selama ini boleh dikatakan masih mentah dan belum bisa dijual. Ibarat sebuah pahatan, ini baru bentuk dasarnya saja – belum ada ukiran atau detailnya sama sekali. Berdasarkan pengalaman dan hikmat dari Tuhan dalam proses pembuatan album saya sebelumnya, maka saya menyimpulkan ada beberapa poin yang kita perlukan dalam mempersiapkan sebuah album.

 

  1. Tetapkan tekad untuk membuat suatu album

 

Di dalam komputer saya saat itu kurang lebih ada 5-6 lagu hasil genjreng-genjreng dengan menggunakan gitar. Sampai akhirnya, Tuhan taruh di dalam hati saya untuk membuat lagu-lagu tersebut agar menjadi berkat bagi orang lain. Caranya adalah dengan membuat album rohani!

Minder dan takut. Jujur itu perasaan yang saya alami. Suara pas-pasan, main gitar juga masih pemula, ditambah lagi tidak ada pengalaman musik apa pun juga. Modalnya hanya iman dan percaya. Setelah saya yakin saya akan maju, di dalam hati saya membulatkan tekad kalau album ini harus jadi dan selesai. Langkah pertama yang harus dilakukan tentu saja melengkapi lagu-lagunya agar bisa menjadi sebuah album. Saya memutuskan untuk membuatnya menjadi sepuluh buah lagu.

 

Singkat cerita, dalam 2 minggu jadilah kesepuluh lagu tersebut. Tepat 10 lagu, tidak lebih tidak kurang. Karena saya tahu kalau jumlah itulah yang saya butuhkan. Saya berusaha fokus dalam memperbaiki kesepuluh lagu tersebut. Minta saran sana-sini. Seperti yang kita tahu, salah satu kendala pencipta pemula yang menciptakan sendiri semua lagu dalam satu album adalah akan adanya kemiripan satu sama lain. Beberapa orang menyarankan kalau perlu kita membeli satu atau dua lagu dari pencipta yang sudah terkenal atau memasukkan lagu orang lain yang sudah terkenal (tentu saja setelah meminta ijin dan/atau membayar royalti bila memang diperlukan).

 

  1. Cari tahu di nada mana kita paling nyaman bernyanyi

Setelah semua lagu telah selesai, cara nada dasar yang ternyaman untuk kita bernyanyi. Ini gampang-gampang susah. Terutama kalau kita baru awal-awal mencipta lagu, biasanya kita tidak memikirkan nada yang terbaik untuk suara kita, melainkan nada yang terbaik untuk telinga kita. Maksudnya begini, beberapa lagu seperti lagu opera misalnya, akan terdengar unik, karena ia memiliki nada mulai dari yang terendah sampai yang tertinggi. Namun kita 'kan bukan penyanyi opera, jadi mungkin akan agak sulit untuk bernyanyi di lagu yang memiliki range nada terlalu luas. Nah, sebelum kita melangkah lebih jauh dalam proses pembuatan album, coba mulai serius menyanyikannya, apakah suara kita cukup enak didengar, dan nanti kalau disuruh maju untuk kesaksian, apakah suara kita bisa mantap? Mengapa ini cukup penting, karena kalau lagu sudah di arransemen, maka hampir mustahil untuk mengubahnya, karena ini sama saja dengan mengarransemen satu lagu baru yang berbeda. Jadi bila ternyata dalam proses menyanyikan lagu ini ada nada-nada yang tidak bisa terjangkau dengan suara kita, inilah saat yang tepat untuk memodifikasi lagu kita.

 

  1. Putuskan : terbitkan sendiri atau pakai label ternama

Ini adalah langkah yang saya skip waktu proses pembuatan album dulu. Akibatnya, saya cukup sedih ketika salah satu perusahaan label ternama menolak album saya. Mereka menyarankan, sebaiknya waktu masih ‘mentah’ dulu, harusnya didengarkan dulu ke mereka, kalau ok baru jalan. Wah gimana ini, orang duit sudah keluar dan album sudah jadi, baru tahu hal ini.

a.    Pakai label ternama

Biasa kita pakai modal nekad,  cari saja nomor teleponnya di yellow pages atau google, atau bisa juga datang ke toko kaset dan tanya apakah ada kontak mereka.

Sesudah telepon, bilang saja, saya punya satu set album, masih mentah, mau minta mereka dengerin. Tanya dikirim ke mana. Nah, pada saat pengiriman, jangan lupa dilampirkan dokumen tentang profil kita, gerejanya jemaat di mana, pelayanan apa saat ini (kalau ada), dan tentu saja: lirik dan chordnya. Habis itu, kita tunggu berita dari mereka. Kalau ok, nanti arransemen dan studio disediakan oleh mereka dan kita tinggal nyanyi. Jujur saja, ini sangat sulit bagi pemusik pemula dan tidak dikenal, tapi tidak ada yang mustahil.

b.   Terbitkan sendiri

Ini yang saya lakukan. Pertama cari arranger yang mau menangani. Saya waktu itu nekad saja datang ke studio dekat rumah dan tanya-tanya sama orang yang jaga di situ. Akhirnya saya tahu, kalau saya butuh seorang arranger atau penata musik untuk merampungkan album ini.

 

Cara memilih arranger:

 

  1.   Tanya harga

Puji Tuhan saya diperkenalkan dengan seorang arranger yang baik dan terjangkau harganya. Sebenarnya banyak orang yang bisa menyediakan jasa paket (range harganya sekitar 15-20 juta) untuk mengarransemen 10 lagu termasuk studio dan mixing. Jadi kita tinggal muncul dan nyanyi. Harga arranger sangat bervariasi, mulai dari 500 ribu rupiah, sampai Rp.25 juta rupiah per lagu, tergantung pengalaman dan tingkat popularitas.

 

  1.   Dengarkan hasil karyanya

Musik merupakan seni dan ini sifatnya cocok-cocokan. Karena kita yang memiliki modal dan lagu, janganlah sungkan untuk menolak seorang arranger bila tidak sesuai dengan selera kita. Seperti kita ketahui, beberapa arranger rohani terkenal memiliki gaya yang berbeda, mulai dari sangat slow sampai seperti lagu rock. Karena lagu-lagu kita yang buat, kemungkinan besar kitalah yang paling tahu ke arah mana musik yang kita inginkan. Namun memang sebaiknya tidak terlalu kaku, karena seringkali pendapat dari orang lain bisa membuat lagu kita menjadi lebih indah.

 

  1.   Tanyakan apa saja yang didapat

Arranger biasanya bekerja dengan menggunakan keyboard, jadi semua suara instrument kebanyakan diproduksi dengan menggunakan keyboard. Namun tentunya perlu ada beberapa instrument live yang akan memperindah lagu, seperti gitar, piano, biola, atau saxophone. Jadi tanyakan kepada mereka apa saja yang kita dapatkan. Ini akan menjadi sangat signifikan karena penambahan satu alat musik live untuk satu lagu biasanya memakan biaya yang tidak sedikit. Jadi semakin banyak yang kita dapatkan semakin baik.

 

  1.   Berapa lama pengerjaannya

Ini penting sekali agar lama pengerjaan album sesuai dengan target kita. Terkadang, pengerjaan lagu oleh arranger bisa memakan waktu yang ‘tak terhingga’. “Maklum, musik yang bagus butuh inspirasi, dan inspirasi tidak bisa dikerjar-kejar waktu,” kata mereka. Jadi dari awal beritahukan waktu yang kita harapkan, misalnya 1 atau 2 bulan bisa selesai. Dan jangan lupa, setiap lagu yang jadi agar langsung didengarkan ke kita, jadi kalau ada yang tidak sesuai bisa langsung diganti. Dalam pembuatan album saya, ada 2 lagu yang dirombak total (dibuat baru) karena saya merasa tidak sesuai dengan warna lagu yang saya inginkan. Makin awal kita koreksi (kalau memang perlu dikoreksi), semakin tidak menyakitkan karena biasanya arrarnger belum terlalu memoles lagu tersebut dengan instrumen-instrumen musik.

 

  1.   Berikan contoh lagu

Mereka tidak bisa membaca pikiran kita (sebelumnya saya pikir mereka bisa:). Rekam lagu-lagu rohani favorit yang kira-kira warnanya akan cocok dengan album kita dan berikan kepada sang arranger untuk didengarkan. Berikan contoh warna lagu dari lagu sekuler bila memang perlu, seandainya sang arranger tidak biasa membuat lagu rohani. Misalnya: “Saya mau warna intro lagunya seperti Eric Clapton di lagu xyz.”

 

  1.   Apakah dia akan menemani sampai akhir mixing

Seorang arranger yang baik hampir pasti menemani kita sampai proses mixing. Mixing ini adalah proses pengaturan suara, misalnya gitarnya diperkeras, suara drumnya diperkecil, suara clarinetnya dinaikkan, dan sebagainya. Intinya ini adalah proses membuat suatu lagu enak didengar telinga orang awam. Dan arranger adalah orang yang paling tahun tentang lagu yang dia buat. Saya saja tidak menyangka kalau salah satu lagu di album saya terdiri dari hampir 30 macam alat musik.

 

  1.   Tanyakan koneksinya (produser atau pemain musik lainnya)

Iseng-iseng, coba tanyakan apakah dia kenal dengan pemain-pemain musik lainnya. Ini penting untuk mendapatkan harga ‘miring’ bila kita ingin menambah alat musik live yang ternyata tidak termasuk dalam paket sang arranger. Misalnya, kita ingin ada biola di beberapa lagu yang ada, kita bisa minta saran dari sang arranger siapa yang bisa kita sewa dan berapa tarifnya. Biasanya antar pemusik solidaritasnya cukup tinggi, sehingga bila sang pemain musik kenal dekat dengan sang arranger, maka ia akan dengan senang hati memberikan harga khusus. Dalam hal ini, tentu saja kita sebagai orang yang mengeluarkan modal yang paling diuntungkan.

 

  1.   Apakah orangnya terbuka dan flexible dalam mendengarkan saran dan kritik

Selama proses pembuatan album, mungkin ia boleh dikatakan orang yang paling dekat dengan kita. Beberapa arranger bisa jadi sangat keras kepala dan tidak menghargai pendapat kita. Nah, yang seperti ini sebaiknya kita hindari karena bisa-bisa kita tidak puas dengan album yang dihasilkan – kecuali kalau orang ini memang yang ditunjuk Tuhan untuk merampungkan album kita.

 

Sekarang, seharusnya lagu kita telah dipahat, dipoles dan dipercantik di tangan sang arranger. Langkah selanjutnya adalah memasukkan vokal : rekaman!

 

Mencari Studio

Hampir pasti, arranger yang kita pakai akan tahu studio mana yang baik dan murah atau sesuai dengan ‘kocek’ kita. Banyak hal yang bisa dijadikan pertimbangan, mulai dari harga, jarak/lokasi, interior, kenyamanan, sampai kepopuleran. Waktu proses pembuatan album saya dulu, saya memilih studio yang jaraknya sangat jauh dari rumah saya. Tempatnya tidak hanya kecil dan seringkali penuh asap rokok, tapi juga kurang nyaman untuk membawa anggota keluarga untuk menemani. Tapi apa daya, harganya adalah yang termurah yang bisa saya dapatkan saat itu. Sebaliknya pada saat mixing, saya memilih tempat yang sangat bagus dan terkenal, di mana banyak artis rohani yang memakai studio tersebut. Meskipun mahal, pertimbangan saya ‘shift’ yang dipakai hanya sedikit dan kualitas sang mixer sudah banyak menangani album-album rohani terkenal.

 

Perhitungan pemakaian studio disebut ‘shift’, yang biasanya berdurasi 6-8 jam (tergantung studionya). Contohnya shift 1 : jam 12 – 18; shift sore : jam 18 – 24; shift malam : jam 24 – 6. Tapi ini tentu saja berbeda antara satu studio dengan studio lainnya. Yang paling efektif tentu saja antara shift 1 dan 2. Biayanya pun bervariasi mulai dari Rp. 250 ribu sampai Rp. 750 ribu.

 

Untuk menyanyikan satu album yang terdiri 10 lagu, dibutuhkan 8 – 15 shift. Karena shift tersebut tidak hanya dipakai untuk penarikan vokal saja, melainkan juga untuk editing dan penambahan alat instrument, serta backing vokal.

 

Kini, kita telah memiliki suatu CD master, yaitu CD hasil olahan terakhir dan siap untuk diedarkan. Beberapa perusahaan distribusi meminta agar CD master ini melalui proses terakhir sebelum dicetak secara massal, yaitu mastering. Intinya untuk membuat CD ini tetap enak didengar telinga meskipun diproduksi secara massal. Namun bila hasil mixing  sudah sangat baik, terkadang proses mastering ini tidak diperlukan lagi.

 

Jangan lupa, perbanyak beberapa keping untuk didengarkan kepada saudara-saudara, gembala, worship leader di gereja dan teman-teman persekutuan. Hitung-hitung ‘pemanasan’. Pokoknya, jangan khawatir atau berpikir terlalu banyak. Selama kita membuat album ini untuk memuliakan nama-Nya, maka Ia yang akan campur tangan dalam segala sesuatunya.

 

Pada tulisan berikutnya, saya akan berbagi mengenai bagaimana proses pendistribusian, cetak, promosi, dan semua langkah yang kita perlukan setelah album ini siap diedarkan.

 

Semoga tulisan ini bermanfaat.

Tuhan Yesus memberkati!

©Peter C Kurniali. Chicago, 19 November 2007

Email : physiQal @ gmail.com

Album Doaku